Buku ini adalah dua generasi : Dimas Suryo, dan putrinya, Lintang Utara yang sama-sama tinggal di Paris, Prancis. Seperti ribuan warga Indonesia lain yang terjebak di berbagai negara dengan status stareless.
Empat orang berseragam berbasis rapih, masing-masing berdiri dengan senapan yang diarahkan kepada bapak, hanya 1 senapan berisi senapan mematikan. Selebihnya peluru karet. tak satupun diantara keempat lelaki itu tahu siapa yang kelak menghentikan hidup bapak.
dalam kumpulan cerpen ini banyak menyajikan lukisan surealis yang mengaburkan batas antara dunia nyata dan imajiner